skip to main |
skip to sidebar
Assalamualaikum.....
Selamat datang di blog sederhana ini
blog
ini sengaja saya beri judul Islam abangan mungkin pengunjung bertanya
kenapa ? karena kami sadar bahwa realitas hidup saat ini serta kultur
budaya masyarakat indonesia tidak akan lepas dengan adat istiadat,
budaya dari nenek moyang
Islam
masuk indonesia melalui pedagang gujarat dengan sistim penyebaran dunia
perdagangan Islam mulai bisa menarik hati masyarakat di kala itu,
pendekatan melalui adat serta budaya yang di dakwahkan oleh para sunan
yang di kenal dengan wali songo pada akhirnya bisa memikat hati masyarakat dan secara tulus ihklas menerima ajaran Islam.
Islam memang agama yang lahir di negara arab namun Islam bukan hanya untuk orang arab.
Semenjak
perkembangan Islam yang pertama di pulau Jawa. Semenjak itu pulalah
muncul istilah Islam putih dan Islam abangan. Hal ini disebabkan adanya
perbedaan metode menyampaikan da’wah yang dilakukan
oleh para wali songo. Dan munculah faham kebatinan yang disebabkan oleh
adanya aliran Syeh Siti Jenar yaitu ajaran tentang ‘manunggaling kawulo gusti’. Yang menurut para wali songo ajaran itu dianggap sesat, dan akhirnya syeh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati.
Perbedaan
penyampaian dan metode da’wah adalah wajar. Namun hasil yang
diperolehnya tentu saja berbeda bentuknya. Hasil dari masing-masing
metode itu ada yang cepat ada pula yang lambat dalam mencapai sasaran.
Tentu saja yang bisa menilai hasilnya adalah generasi selanjutnya.
Para walisongo dalam menyampaikan da’wahnya terpecah menjadi dua kelompok yaitu :
1. Kelompok yang dipimpin oleh Sunan Giri yang dibantu oleh Sunan Ampel
dan Sunan Drajat. Kelompok ini dikenal dengan “ Golongan Islam Putih
(Putihan).
Mengapa
demikian? Hal ini dapat terjadi karena Sunan Giri mempunyai ilmu yang
dalam tentang ilmu Tauhid dan ilmu Fiqih. Maka ia sangat hati-hati dalam
menentukan hukum dan takut kalau terjerumus pada kesesatan dan
perbuatan yang tidak sesuai dengan sunnah Rasul. Perlu diketahui bahwa
Sunan Giri adalah seorang ulama’ yang pernah belajar agama di Aceh
selama beberapa tahun. Maka pantaslah latar belakang pendidikannya juga
sangat mempengaruhi dirinya. Di dalam ajaran-ajaran Tauhid dan ke
Tuhanan. Sunan Giri sangat ekstrim. Tidak mau berkompromi dengan
kepercayaan lama. Hindu, Budha, Animisme, dan Dinamisme.
Beliau
berpendapat bahwa kepercayaan lama itu harus dikikis habis dan
dikuburkan. Rakyat harus dididik untuk mengamalkan ajaran Islam yang
sejati. Adat Istiadat lama tidak sesuai dengan ajaran Islam harus
dilenyapkan. Pelaksanaan syareat Islam dalam bidang ibadah dan tauhid
harus sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Itulah sebabnya aliran yang
menganut pendirian Sunan Giri itu dinamakan golongan Islam putih atau
Islam putihan. Putih artinya bersih, lurus, suci dan orang yang
mengikuti aliran Islam putih ini disebut Kaum Putihan.
2. Di lain pihak aliran Sunan Giri ini dikatakan kolot dan terlalu
ekstrim. Tidak mengerti situasi dan kondisi tidak bisa menyesuaikan diri
dengan masyarakat dan kurang bisa menerapkan hukum dalam masyarakat
yang masih berkepercayaan lama.
Golongan
yang tidak setuju dengan pendapat Sunan Giri itu adalah golongan atau
kelompok kedua. Kelompok ini dipimpin oleh Sunan Kalijaga yang didukung
oleh Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.
Golongan ini berpendapat sebagai berikut:
Membiarkan dulu adat-adat yang sukar di ubah dan adat-adat kepercayaan
lama itu sangat berat untuk diubah dengan kekerasan dan tergesa-gesa
atau radikal.
Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi agak mudah dirubah segera dihilangkan.
Tutwuri Handayani. Artinya mengikuti dari belakang kelakuan dan adat
rakyat tetapi diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit,
dan Tutwuri Hangiseni artinya mengikuti dari belakang sambil mengisi
kepercayaan atau ajaran agama Islam.
Menghindarkan konfrontasi secara langsung dengan masyarakat di dalam
pasal menyiarkan agama Islam. Dengan maksud berusaha untuk mengambil
ikannya tetapi tidak mengeruhkan airnya sehingga menjadi butek.
Cara-cara
seperti tersebut diatas oleh kelompok Sunan Giri dituduh sebagai Islam
Abangan karena di dalam prakteknya syareat Islam banyak dicampuri dengan
unsur-unsur adat lama dan berkompromi dengan kepercayaan lama.
Adanya
perbedaan pendapat dan cara da’wah antara kelompok Islam Putihan dan
Islam Abangan tersebut hendaknya dapat dimaklumi karena aliran Islam
Abangan khawatir kalau-kalau terjadi penyelewengan ajaran Agama Islam
dan jatuh menjadi syirik. Sedangkan aliran Islam Abangan ingin agar
agama Islam cepat dan dapat diterima oleh semua rakyat. Namun aliran
Islam Abangan ini menempuh jalan yang liku-liku dan perlu memakan waktu
yang lama untuk menuju kepada ajaran Islam yang murni. Sedang Kaum
Putihan ingin cepat melintas jalan lurus kepada ajaran Islam yang murni.
Dalam
perkembangan selanjutnya kedua golongan ini sering berkompetisi dalam
sikap dan langkahnya. Sehingga istilah golongan Islam abangan dan Islam
putihan ini mejadi jelas, walaupun pada akhirnya kedua golongan itu
saling bersatu dan saling memaklumi tentang sistem da’wah masing-masing.
0 komentar:
Posting Komentar