Subscribe Twitter FaceBook

Selasa, 14 Februari 2012

Beranda

Share on :

Assalamualaikum.....

Selamat datang di blog sederhana ini
blog ini sengaja saya beri judul Islam abangan mungkin pengunjung bertanya kenapa ? karena kami sadar bahwa realitas hidup saat ini serta kultur budaya masyarakat indonesia tidak akan lepas dengan adat istiadat, budaya dari nenek moyang
Islam masuk indonesia melalui pedagang gujarat dengan sistim penyebaran dunia perdagangan Islam mulai bisa menarik hati masyarakat di kala itu, pendekatan melalui adat serta budaya yang di dakwahkan oleh para sunan yang di kenal dengan wali songo pada akhirnya bisa memikat hati masyarakat dan secara tulus ihklas menerima ajaran Islam.
Islam memang agama yang lahir di negara arab namun Islam bukan hanya untuk orang arab.

Semenjak perkembangan Islam yang pertama di pulau Jawa. Semenjak itu pulalah muncul istilah Islam putih dan Islam abangan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan metode menyampaikan da’wah yang dilakukan oleh para wali songo. Dan munculah faham kebatinan yang disebabkan oleh adanya aliran Syeh Siti Jenar yaitu ajaran tentang ‘manunggaling kawulo gusti’. Yang menurut para wali songo ajaran itu dianggap sesat, dan akhirnya syeh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati.

Perbedaan penyampaian dan metode da’wah adalah wajar. Namun hasil yang diperolehnya tentu saja berbeda bentuknya. Hasil dari masing-masing metode itu ada yang cepat ada pula yang lambat dalam mencapai sasaran. Tentu saja yang bisa menilai hasilnya adalah generasi selanjutnya.

Para walisongo dalam menyampaikan da’wahnya terpecah menjadi dua kelompok yaitu :


   1. Kelompok yang dipimpin oleh Sunan Giri yang dibantu oleh Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Kelompok ini dikenal dengan “ Golongan Islam Putih (Putihan).

Mengapa demikian? Hal ini dapat terjadi karena Sunan Giri mempunyai ilmu yang dalam tentang ilmu Tauhid dan ilmu Fiqih. Maka ia sangat hati-hati dalam menentukan hukum dan takut kalau terjerumus pada kesesatan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan sunnah Rasul. Perlu diketahui bahwa Sunan Giri adalah seorang ulama’ yang pernah belajar agama di Aceh selama beberapa tahun. Maka pantaslah latar belakang pendidikannya juga sangat mempengaruhi dirinya. Di dalam ajaran-ajaran Tauhid dan ke Tuhanan. Sunan Giri sangat ekstrim. Tidak mau berkompromi dengan kepercayaan lama. Hindu, Budha, Animisme, dan Dinamisme.

Beliau berpendapat bahwa kepercayaan lama itu harus dikikis habis dan dikuburkan. Rakyat harus dididik untuk mengamalkan ajaran Islam yang sejati. Adat Istiadat lama tidak sesuai dengan ajaran Islam harus dilenyapkan. Pelaksanaan syareat Islam dalam bidang ibadah dan tauhid harus sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Itulah sebabnya aliran yang menganut pendirian Sunan Giri itu dinamakan golongan Islam putih atau Islam putihan. Putih artinya bersih, lurus, suci dan orang yang mengikuti aliran Islam putih ini disebut Kaum Putihan.

 

   2. Di lain pihak aliran Sunan Giri ini dikatakan kolot dan terlalu ekstrim. Tidak mengerti situasi dan kondisi tidak bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat dan kurang bisa menerapkan hukum dalam masyarakat yang masih berkepercayaan lama.

Golongan yang tidak setuju dengan pendapat Sunan Giri itu adalah golongan atau kelompok kedua. Kelompok ini dipimpin oleh Sunan Kalijaga yang didukung oleh Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.

Golongan ini berpendapat sebagai berikut:

      Membiarkan dulu adat-adat yang sukar di ubah dan adat-adat kepercayaan lama itu sangat berat untuk diubah dengan kekerasan dan tergesa-gesa atau radikal.
  
      Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi agak mudah dirubah segera dihilangkan.
  
      Tutwuri Handayani. Artinya mengikuti dari belakang kelakuan dan adat rakyat tetapi diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit, dan Tutwuri Hangiseni artinya mengikuti dari belakang sambil mengisi kepercayaan atau ajaran agama Islam.
   
      Menghindarkan konfrontasi secara langsung dengan masyarakat di dalam pasal menyiarkan agama Islam. Dengan maksud berusaha untuk mengambil ikannya tetapi tidak mengeruhkan airnya sehingga menjadi butek.

Cara-cara seperti tersebut diatas oleh kelompok Sunan Giri dituduh sebagai Islam Abangan karena di dalam prakteknya syareat Islam banyak dicampuri dengan unsur-unsur adat lama dan berkompromi dengan kepercayaan lama.

Adanya perbedaan pendapat dan cara da’wah antara kelompok Islam Putihan dan Islam Abangan tersebut hendaknya dapat dimaklumi karena aliran Islam Abangan khawatir kalau-kalau terjadi penyelewengan ajaran Agama Islam dan jatuh menjadi syirik. Sedangkan aliran Islam Abangan ingin agar agama Islam cepat dan dapat diterima oleh semua rakyat. Namun aliran Islam Abangan ini menempuh jalan yang liku-liku dan perlu memakan waktu yang lama untuk menuju kepada ajaran Islam yang murni. Sedang Kaum Putihan ingin cepat melintas jalan lurus kepada ajaran Islam yang murni.

Dalam perkembangan selanjutnya kedua golongan ini sering berkompetisi dalam sikap dan langkahnya. Sehingga istilah golongan Islam abangan dan Islam putihan ini mejadi jelas, walaupun pada akhirnya kedua golongan itu saling bersatu dan saling memaklumi tentang sistem da’wah masing-masing.

0 komentar:

Posting Komentar