Siapa yang tak pernah mendengar syair Tanpo Waton yang di senandungkan oleh gusdur.
CD nya ribuan bahkan mungkin jutaan copy beredar. begitu populernya
bahkan di setiap Musholla ditempat saya, setelah azan sholat 5 waktu
selalu berpujian syair tersebut.
Tidak hanya itu ibu - ibu yang tergabung dalam jama’ah pengajianpun mengkopy dan di sebarkan di setiap orang.
Memang jika bener – bener meresapi bait demi bait syair tersebut rasanya menyentuh hati bahkan bisa menitikkan air mata.
Begitu mendalam, dimulainya syair dengan bacaan Isthighfar dan bersholawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
Dengan rasa penasaran saya coba cari pengarang Syair tersebut melalui mbah google, dan akhirnya kutemukan Kronologi siapa pengarang syair tersebut.
Menatap Awan Menggapai Langit
Di awal tahun 2011 pertama kali aku mendengar
syiir
tanpo waton di karang nongko di acara pengajiannya kiai husain, rutinan
malam pitulasan. syiir tersebut di kumandangkan sebelum dan sesudah
pengajian, syiirnya begitu menyentuh kalbu, dan mulai bait awal sampai
akhir penuh makna, seluruh syiir tersebut mengandung ajaran mulai dasar
sampai ke ajaran yg lebih tinggi, andai ada orang yg baru masuk islam
dan hanya syiir an ini jd pegangan insya Allah dia selamat dunia
akhirat.
Setelah selesei mengaji aku minta syiiran ini dari para santri melalui bleutoot dari hp ke hp
sesampai
di rumah aju dengarkan lagi syiiran ini,tanpa bisa di cegah hati
tergetar , perasaan begitu syahdu....air mata jatuh bercucuran, setiap
kali ku ulangi syiiran ini aku menangis tersedu....begitu kuat daya
magis syiir tanpo waton ini
Beberapa bulan kemudian
ketika aku pergi ketulangan sidoarjo ke rumahnya gus yusup, di rumah gus
yusup sudah ada tamu seorang tua yg memakai busana muslim tapi lusuh
sekali, aku tidak tahu siapa orang tua ini, tiba - tiba hpku berdering
dan kebetulan nada deringnya adalah syiir tanpo waton, orang tua ini
meneruskan syiir tanpo waton dari hpku dg suara yg lembut tapi serak
sekali dan kulihat matanya mulai berkaca - kaca, singkat kata kami
akhirnya membahas syiir tanpo waton ini, berkali kali aku bertanya
kepada orang tua ini arti kata yg tidak aku mengerti di syiir tanpo
waton ini, orang tua ini menjawab dg sangat gamblang sekali, aku
bersyukur di pertemukan dg orang tua ini, lewat gus yusup akhirnya aku
tahu siapa sebenarnya orang ini, orang ini adalah teman gus yusup yg
setiap kali kalau gus yusup mengalami kegundahan dalam hatinya orang ini
datang dg tiba tiba tanpa di undang ke rumah gus yusup dan memberi
jalan keluar
Setelah kami mengobrol cukup lama gus
yusup bilang padaku kalau syiir tanpo waton ini bukan karangan gus dur
dan yg melagukan juga bukan gus dur tapi gus nizam dari wonoayu
sidoarjo, dan orang tua ini mengamini apa yg dibilang oleh gus yusup,
aku bertanya dalam hati benarkah berita ini...
seiring dg waktu
aku mulai melupakan peristiwa ini, dan aku masih yakin kalau yg
mengarang dan melagukan syiiran ini adalah gus dur bukan gus
nizam,sampai dua hari yg lalu, malam 15 bulan puasa aku di telp oleh
putra kiai djalil yg menanyakan siapa sebenarnya pengarang dan yang
melagukan syiir tanpo waton, katanya ada yg bilang bukan gus dur yg
melagukan, aku teringat peristiwa di tulangan waktu itu, dan kusampaikan
kpd putra kiai djalil ini bahwa memang ada yg mengatakan begitu, yaitu
bahwa yg mengarang dan melagukan syiir tanpo waton itu gus nizam bukan
gus dur. putra kiai djalil ini minta tolong kepadaku supaya mencari info
yg sebenarnya..
Aku mulai mencari info dan
alhamdulillah info ini ku dapat dari orang yg bernama supri dari wonoayu
sidoarjo, beliau bercerita : Diawal bulan Mei 2011 itulah pertama saya
mendengarkan syiir ini ditengah-tengah ribuan jamaah dari berbagai
penjuru dusun, desa, kecamatan, kota dan luar kota. Ketika mendengar
syiir ini hati, akal pikiran dan seluruh badan terasa gemetar seperti
mendapatkan pancaran Nur Ilahi. Sejak itulah saya mencoba menelusuri
jejak syiir ini apakah Gus Nizam (pengasuh ponpes Ahlus Shafa wal Wafa
Simoketawang, Wonoayu, Sidoarjo) yang menciptakan atau ada orang lain
dibalik terciptanya syiir ini.
Karena sejak awal
pertama kali mendengar syiir ini saya meyakini bahwa bukan orang biasa
yang membuat syiir ini katakanlah sekelas waliyullah. Untuk menapaki
jejak syiir ini langkah pertama yang saya ambil adalah mencari di dunia
maya melalui bantuan Google, begitu tulisan “syiir tanpo wathon“ saya
masukkan dan mesin pencari bekerja seketika web/blog yang mengulas syiir
ini langsung terpampang semua. Ohh... ternyata syiir ini diciptakan
oleh Almaghfirullah Gus Dur. Dalam hati berkata pantas saja syiir ini
begitu mendalam maknanya.
Sebagai seorang lulusan S1 yang pernah
melakukan penelitian, insting untuk mencari kebenaran syiir ini mulai
muncul dibenak saya. Tak lama kemudian sekitar awal bulan Juni 2011
syiir ini dikumandangkan setiap menjelang adzan shalat fardhu di radio
Yasmara Kembang Kuning Surabaya. Sejak itulah syiir ini menjadi
gelombang tsunami yang menghantam relung-relung hati dan jiwa
orang-orang yang beriman. Satu bulan berikutnya sekitar awal bulan Juli
2011 muncullah CD yang beredar dipasaran melantunkan syiir ini yang
disertai vidio klip foto-foto almarhum Gus Dur.
Jejak
demi jejak kami telusuri, ternyata syiir ini beredar di dunia maya sejak
bulan Nopember 2011 dan yang menyebarkan syiir ini adalah komunitas
Gusdurian (pengidola Gus Dur). Semua vidio klip suaranya seragam
dilantunkan satu orang, yang hampir semua orang itu meyakini suara Gus
Dur, namun setelah memutar beberapa kali suaranya memang mirip suara
Almarhum Gus Dur, tetapi suara itu terdengar ketika Gus Dur masih muda.
Hatipun bertanya-tanya kalau benar ini suaranya Gus Dur seharusnya syiir
ini booming sejak Gus Dur masih hidup.
Jejak setapak
terus saya telusuri, suaranya yang masih muda mengingatkan saya pada
sosok KH. Mohammad Nizam As-Shofa, Lc dan ternyata betul suara ini mirip
sekali dengan suara khas Gus Nizam cucu dari guru mursyid tarekat
(almarhum) Hadhratus as-Syaikh al-Mukarram KH. Sahlan Thalib, Krian,
Sidoarjo. KH. Sahlan merupakan seorang guru mursyid yang telah
menelorkan beberapa orang wali seperti Almaghfirullah Mbah ‘Ud
Pagerwojo, Sidoarjo dan juga Almaghfirullah KH. Ahmad Bahru Mafdlaluddin
Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam (Pengasuh Ponpes Salafiyah Bihaaru Bahri
‘Asali Fadlaailir Rahmah) Turen, Malang.
Langkah
setapak untuk menelusuri jejak syiir ini terus saya langkahkan, sudah
saatnya saya mencari informasi dari dalam Ponpes Ahlus Shofa wal Wafa
melalui jamaah yang sudah lama ikut maupun para pengurus-pengurusnya.
Setapak demi setapak membuahkan hasil. Seorang jamaah yang sejak 2007
telah mengikuti pengajian di ponpes ini menjelaskan bahwa sejak pertama
kali saya ikut pengajian disini, syiir ini sudah rutin dilantunkan
bersama jamaah setelah selesai pengajian. Dan ketika saya bertanya
kepada salah satu pimpinan pengurus di ponpes ini, beliau mengatakan
saya sudah hafal syiir ini sejak 4 tahun yang lalu, maksudnya adalah
sejak awal 2007.
Kemudian saya teringat dengan CD yang memuat
pengajian bulan ramadhan tahun 2008 yang didalamnya terdapat file syiir
tanpo wathon. Saya coba melihat properteisnya dan ternyata file ini
direkam sejak bulan Pebruari 2007.
Puncak pendakian
gunung syiir tanpo wathon ini sudah hampir kelihatan, itu artinya
langkah setapak tinggal sedikit lagi. Langkah yang berat terus saya
lakukan untuk mencapai puncak sejarah dari syiir ini. Dan Alhamdulillah
Gus Nizam menunjukkan jalan setapak yang terakhir dari puncak syiir ini,
bahwa syiir ini beliau ciptakan sejak tahun 2004. Di versi pertama
syiir ini lebih panjang dua bait, kemudian diversi kedua tahun 2007 dua
bait tersebut dihapus. Dan versi kedua itulah yang beredar luas dan
syiir ini kemudian diakui oleh Gusdurian (pengidola Gus Dur) sebagai
syiirnya Gus Dur.
Sebagai pencipta dan pelantun syiir
tanpo wathon ini, Gus Nizam bersyukur sekali syiir ini beredar luas
dimasyarakat dengan kebesaran nama Guru Bangsa kita yaitu Gus Dur.
Kuatnya label kewalian Gus Dur yang samakin hari semakin berjubel,
puluhan ribu peziarah terus memadati makam Almaghfirullah Gus Dur. Gus
Nizam juga mengaku senang sekali jika syiir ini ditempelkan atau
nisbatkan ke Gus Dur. Karena Gus Nizam sendiri mengakui bahwa Gus Dur
merupakan salah seorang waliyullah. Itu terbukti disetiap pengajiannya
hadiah Al-Fatihah selalu dikirimkan ke Almagfirullah Gus Dur untuk
mendapatkan keberkahannya.
Langkah menapaki puncak
syiir ini telah sampai pada puncaknya. Pencipta dan pelantun syiir tanpo
wathon adalah KH. Mohammad Nizam As-Shafa, Lc. Pengasuh Ponpes Ahlus
Shafa wal Wafa, Simoketawang, Wonoayu, Sidoarjo. Beliau merupakan guru
pembimbing tarekat Naqsyabandiyah, beliau membuka pengajian tasawuf
setiap Rabu malam yang diikuti oleh ribuan jamaah putra-putri. Kitab
yang dikaji adalah Kitab Jami’ul Ushul Fil Auliya’ (Syaikh Ahmad
Dhiya’uddin Musthofa Al-Kamisykhonawy) & kitab Al-Fathur Rabbani wal
Faidlur Rahmany (Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani) setiap Rabu jam 21.30
WIB.
http://aliks-fx.blogspot.com/2011/10/misteri-pengarang-syieir-tanpo-waton.html


0 komentar:
Posting Komentar