KH. Abudurahman Wahid yang lebih di kenal dengan Gusdur asal
kota Jombang Jawa Timur mantan Presiden RI
ke 4.
Sosok yang terkenal tidak hanya di dalam negeri, di luar
negeripun gusdur sudah tidak asing lagi. Dengan joke – joke nyeleneh terkadang
tampak lucu bahkan saking lucunya membuat pusing kepala dan kebakaran jengot
pendengarnya.
“ BEGITU SAJA KOK REPOT “ itulah jawaban yang tidak asing di
telinga kita. Persoalan yang pelik sekalipun dengan mudah di jawab oleh sang Guru bangsa ini.
Sepeninggal Gus Dur menghadap Allah , banyak hal yang ditinggalkan berupa pikiran-pikirannya yang sering dikritisi dan dibilang “nyleneh”, baru penulis sadari banyak kebenarannya. Prinsip hidupnya yang sangat menjunjung tinggi perdamaian, melindungi minoritas dari kesewenang-wenangan mayoritas, melindungi orang-orang yang didzolimi dan pluralisme berbangsa sering menjadi santapan orang-orang yang tidak menyukai aktifitasnya tersebut. Keberpihakannya terhadap Pancasila, ketidaksetujuannya dengan negara Agama, kesetiaannya terhadap NKRI kadang dinilai oleh sebagian penganut Islam tidak menyuarakan aspirasi masyarakat Islam. Namun seiring kepergian beliau, nilai-nilai dan gagasan pikirannya ternyata sangat aktual , realistis dan seharusnya memang menjadi nilai-nilai dasar bagi kehidupan berbangsa dengan masyarakat yang plural baik secara fisik maupun kultur.
Sosok Gus Dur ternyata mampu menjembatani berbagai elemen etnis, agama, strata sosial dalam masyarakat Indonesia. Bahkan lintas dunia. Dengan tidak bermaksud mengkultuskan beliau, belum ada tokoh sekaliber beliau saat ini yang bisa menjadi mediasi dalam pertikaian-pertikaian yang terjadi di dunia politik maupun kehidupan sosial saat ini.
Sepeninggal Gus Dur menghadap Allah , banyak hal yang ditinggalkan berupa pikiran-pikirannya yang sering dikritisi dan dibilang “nyleneh”, baru penulis sadari banyak kebenarannya. Prinsip hidupnya yang sangat menjunjung tinggi perdamaian, melindungi minoritas dari kesewenang-wenangan mayoritas, melindungi orang-orang yang didzolimi dan pluralisme berbangsa sering menjadi santapan orang-orang yang tidak menyukai aktifitasnya tersebut. Keberpihakannya terhadap Pancasila, ketidaksetujuannya dengan negara Agama, kesetiaannya terhadap NKRI kadang dinilai oleh sebagian penganut Islam tidak menyuarakan aspirasi masyarakat Islam. Namun seiring kepergian beliau, nilai-nilai dan gagasan pikirannya ternyata sangat aktual , realistis dan seharusnya memang menjadi nilai-nilai dasar bagi kehidupan berbangsa dengan masyarakat yang plural baik secara fisik maupun kultur.
Sosok Gus Dur ternyata mampu menjembatani berbagai elemen etnis, agama, strata sosial dalam masyarakat Indonesia. Bahkan lintas dunia. Dengan tidak bermaksud mengkultuskan beliau, belum ada tokoh sekaliber beliau saat ini yang bisa menjadi mediasi dalam pertikaian-pertikaian yang terjadi di dunia politik maupun kehidupan sosial saat ini.
Disegani umat Islam serta Agama diluar Islampun mengakui
ketokohan dari gusdur.
Kiranya kurang afdol jika saya yang ada di kota kelahiran Beliau tidak mempopulerkan
syair Tanpo Waton yang di bawakan Beliau
sebelum wafat.
Syair syarat makna serta nasehat dan sindiran bagi umat
Islam.
Apa saja makna, nasehat, serta sindiran yang tersirat di
dalam syair tersebut,
Insya Allah Postingan berikutnya segera ( kayak film bioskop
pakai segera ) akan saya jabarkan tentunya dengan fersi dan pengetahuan saya.
Syi'ir Tanpo Waton
al-magfurlah KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur)
استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا
ربّي زدني علما نافعا # ووفّقني عملا صالحا
يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيل الجود والكرم
Ngawiti ingsun nglaras Syiiran (mengawali saya menyanyikan syi'iran)
Kelawan muji marang Pangeran (dengan memuji pada Tuhan)
Kang paring rahmat lan kenikmatan (yang telah memberikan rahmat dan kenikmatan)
Rino wengine tanpo pitungan (siang dan malam tanpa perhitungan)
Duh bolo konco priyo wanito (hai teman2ku pria dan wanita)
Ojo mong ngaji Syare'at bloko (jangan hanya mengaji ilmu Syari'at saja)
Gur pinter ndongeng, nulis lan moco (hanya pintar mendongeng, menulis, dan membaca)
Tembe mburine bakal sengsoro (besok pada akhirnya akan sengsara)
Akeh kang apal Qur'an haditse (banyak yang hafal Qur'an dan hadistnya)
Seneng ngafirke marang liyane (senang mengkafirkan orang lain)
Kafire dewe gag di gatekke (kafirnya sendiri tidak pernah diperhatikan)
Yen isih kotor ati akale (jika masih kotor hati dan akalnya)
Gampang kabujuk nafsu angkoro (mudah terbujuk nafsu angkara)
Ing pepaese gebyare ndunyo (pada perhiasan dan kenikmatan dunia)
Iri lan meri sugihe tonggo (iri dan dengki terhadap kekayaan tetangga)
Mulo atine peteng lan nisto (maka hatinya petang dan hina)
Ayo sedulur jo nglaleake (ayo saudara, jangan melupakan)
Wajibe ngaji sak pranatane (wajibnya ngaji beserta tata caranya)
Nggo ngandelake iman tauhite (untuk mempertebal iman dan tauhid)
Baguse sangu mulyo matine (bagusnya saku, adalah mulya ketika matinya)
Kang aran soleh bagus atine (yang namanya "sholeh" adalah bagus hatinya)
Kerono mapan seri ngelmune (karena sudah mapan sari ilmunya)
Laku thoriqot lan ma'rifate (jalani thoriqot dan ma'rifatnya)
Ugo hakikot manjing rasane (dan hakikat agar mendapatkan rasanya)
Al-Qur'an Qodim wahyu minulyo (alQur an Qodim merupakan wahyu yang mulia)
Tanpo ditulis biso diwoco (tanpa ditulis bisa dibaca)
Iku wejangan guru waskito (itu wejangan/nasihat guru waskito/kebatinan)
Den tancepake ing njero dodo (ditancapkan dalam dada)
Kumantil ati lan pikiran (ketergantungan hati dan pikiran)
Mrasuk ing badan kabeh jeroan (merasuk dalam tubuh dan semua anggotanya)
Mu'jizat Rosul dadi pedoman (mu'jizat Rosul jadi pedoman)
Minongko dalan manjinge iman (menjadi jalan hadirnya iman)
Kelawan Allah kang moho suci (kepada Alloh Yang Maha Suci)
Kudu rangkulan rino lan wengi (harus bergandengan siang dan malam)
Ditirakati diriyadhohi (ditirakati dan diriyadlohi)
Dzikir lan suluk jo nganti lali (dzikir dan suluk jangan sampai lupa)
Uripe ayem rumongso aman (hidunya tentram dan merasa aman)
Dununge roso tondo yen iman (hadirlah rasa tanda kalo beriman)
Sabar narimo najan pas pasan (sabar menerima meskipun hanya pas-pasan)
Kabeh tinakdir saking pengeran (semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan)
Kelawan konco dulur lan tonggo (terhadap teman,saudara,dan tetangga)
kang podo rukun ojo ngasio (yang rukun jangan menyia-nyiakan)
Iku sunahe Rosul kang mulyo (itu sunnahnya Rosul yg mulia)
Nabi Muhammad panutan kito (nabi Muhammad panutan kita)
Ayo nglakoni sakabehane (ayo menjalankan semuanya)
Allah kang bakal ngangkat derajate (Alloh yang akan mengangkat derajatnya)
Senajan ashor toto dhohire (Meskipun hina dari dhohirnya)
Ananging mulyo maqom drajate (tetapi mulia dalam tingkat derajatnya)
Lamun palastro ing pungkasane (namun pada akhirnya)
Ora kesasar roh lan sukmane (tidak tersesat roh dan jiwanya)
Den gadang Allah swargo manggone (dijanjikan Alloh surga tempatnya)
Utuh mayite ugo ulese (Utuh mayatnya dan kafannya)
al-magfurlah KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur)
استغفر الله ربّ البرايا # استتغفر الله من الخطا يا
ربّي زدني علما نافعا # ووفّقني عملا صالحا
يا رسول الله سلام عليك # يا رفيع الشان و الدرج
عطفة يا جيرة العالم # يا أهَيل الجود والكرم
Ngawiti ingsun nglaras Syiiran (mengawali saya menyanyikan syi'iran)
Kelawan muji marang Pangeran (dengan memuji pada Tuhan)
Kang paring rahmat lan kenikmatan (yang telah memberikan rahmat dan kenikmatan)
Rino wengine tanpo pitungan (siang dan malam tanpa perhitungan)
Duh bolo konco priyo wanito (hai teman2ku pria dan wanita)
Ojo mong ngaji Syare'at bloko (jangan hanya mengaji ilmu Syari'at saja)
Gur pinter ndongeng, nulis lan moco (hanya pintar mendongeng, menulis, dan membaca)
Tembe mburine bakal sengsoro (besok pada akhirnya akan sengsara)
Akeh kang apal Qur'an haditse (banyak yang hafal Qur'an dan hadistnya)
Seneng ngafirke marang liyane (senang mengkafirkan orang lain)
Kafire dewe gag di gatekke (kafirnya sendiri tidak pernah diperhatikan)
Yen isih kotor ati akale (jika masih kotor hati dan akalnya)
Gampang kabujuk nafsu angkoro (mudah terbujuk nafsu angkara)
Ing pepaese gebyare ndunyo (pada perhiasan dan kenikmatan dunia)
Iri lan meri sugihe tonggo (iri dan dengki terhadap kekayaan tetangga)
Mulo atine peteng lan nisto (maka hatinya petang dan hina)
Ayo sedulur jo nglaleake (ayo saudara, jangan melupakan)
Wajibe ngaji sak pranatane (wajibnya ngaji beserta tata caranya)
Nggo ngandelake iman tauhite (untuk mempertebal iman dan tauhid)
Baguse sangu mulyo matine (bagusnya saku, adalah mulya ketika matinya)
Kang aran soleh bagus atine (yang namanya "sholeh" adalah bagus hatinya)
Kerono mapan seri ngelmune (karena sudah mapan sari ilmunya)
Laku thoriqot lan ma'rifate (jalani thoriqot dan ma'rifatnya)
Ugo hakikot manjing rasane (dan hakikat agar mendapatkan rasanya)
Al-Qur'an Qodim wahyu minulyo (alQur an Qodim merupakan wahyu yang mulia)
Tanpo ditulis biso diwoco (tanpa ditulis bisa dibaca)
Iku wejangan guru waskito (itu wejangan/nasihat guru waskito/kebatinan)
Den tancepake ing njero dodo (ditancapkan dalam dada)
Kumantil ati lan pikiran (ketergantungan hati dan pikiran)
Mrasuk ing badan kabeh jeroan (merasuk dalam tubuh dan semua anggotanya)
Mu'jizat Rosul dadi pedoman (mu'jizat Rosul jadi pedoman)
Minongko dalan manjinge iman (menjadi jalan hadirnya iman)
Kelawan Allah kang moho suci (kepada Alloh Yang Maha Suci)
Kudu rangkulan rino lan wengi (harus bergandengan siang dan malam)
Ditirakati diriyadhohi (ditirakati dan diriyadlohi)
Dzikir lan suluk jo nganti lali (dzikir dan suluk jangan sampai lupa)
Uripe ayem rumongso aman (hidunya tentram dan merasa aman)
Dununge roso tondo yen iman (hadirlah rasa tanda kalo beriman)
Sabar narimo najan pas pasan (sabar menerima meskipun hanya pas-pasan)
Kabeh tinakdir saking pengeran (semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan)
Kelawan konco dulur lan tonggo (terhadap teman,saudara,dan tetangga)
kang podo rukun ojo ngasio (yang rukun jangan menyia-nyiakan)
Iku sunahe Rosul kang mulyo (itu sunnahnya Rosul yg mulia)
Nabi Muhammad panutan kito (nabi Muhammad panutan kita)
Ayo nglakoni sakabehane (ayo menjalankan semuanya)
Allah kang bakal ngangkat derajate (Alloh yang akan mengangkat derajatnya)
Senajan ashor toto dhohire (Meskipun hina dari dhohirnya)
Ananging mulyo maqom drajate (tetapi mulia dalam tingkat derajatnya)
Lamun palastro ing pungkasane (namun pada akhirnya)
Ora kesasar roh lan sukmane (tidak tersesat roh dan jiwanya)
Den gadang Allah swargo manggone (dijanjikan Alloh surga tempatnya)
Utuh mayite ugo ulese (Utuh mayatnya dan kafannya)
syi'ir tanpo waton bukanlah karangan Gus Dur melainkan punya almukarrom romo kiyai H.M. Nidhom As-Sofa yang mana beliaunya adalah pengasuh pondok pesantren ahlus-sofa wal wafa dengan alamat jl.darmo no.1 simoketawang wonoayu sidoarjo. kendati demikian yang lebih penting lagi untuk di ketahui adalah substansi makna yang terkandung dalam sya'ir ini yang begitu dalam.


0 komentar:
Posting Komentar